Tempat Spesial Karya: Carol Falia Dungus (XII IPA1)
Aku bukan anak spesial. Tapi aku rasa, aku berada di tempat yang spesial. Tempatku tinggal bukan tempat yang cukup maju. Bukan pula terpelosok. Desa Campur Uhang. Desa yang mayoritas mata pencahariannya adalah petani. Desa yang penduduknya berasal dari berbagai daerah.
Di Campur Uhang, sejauh mata memandang akan dimanjakan dengan hijaunya pepohonan dan disapa oleh lambaian padi. Agak jauh dari pemukiman ada sebuah sungai yaitu sungai Gajak. Gajak adalah tempat favorit si belalai panjang gajah Sumatra. Bersamaan matahari yang terbenam mereka menyemburkan air dari belalainya seakan menciptakan pelangi. Pemandangan beberapa gajah berteman segerombolan kerbau yang berendam santai dapat di lihat dari jendela rumahku yang berada di seberang sungai.
***
Dari atas sampan aku melihat bapak yang sedang memandikan Rino si gajah jantan. Bapakku adalah seorang pawang gajah di bentang alam ini. Beberapa gajah berhasil dijinakkannya.
“Bapak. Aku berangkat sekolah dulu pak”
“ iyaa hati-hati jangan lupa nanti Sore cari makan buat gajah” ucap bapakku.
***
“Teng...teng..teng” bunyi suara kentongan di pukul tiga kali. jam pelajaran dimulai. Aku hanya telat sedikit. Sialnya pak guru matematika itu selalu datang lima menit sebelum masuk.
“maaf pak saya telat, tadi air sungainya deras saat saya menyeberang” air sungai yang deras hanya akal-akalanku saja sebagai alasan.
“ Hei Reko, apa cita-citamu?”
Aku terkejut. Beliau melontarkan pertanyaan yang begitu tidak sesuai dengan situasi sekarang.
“Saya mau jadi arsitek, Pak” jawabku ragu.
“Ya sudah , sana masuk” ia menyuruhku masuk dengan ekspresi wajah datar sementara aku masih kebingungan.
“Jadi anak-anak... perhatikan! Bapak mau tanya pada Dita. Dita, apa cita-citamu?” guru matematika itu bertanya sambil menunjuk siswi terpintar di kelasku.
“saya mau jadi dokter seperti ibu saya, pak” jawabnya dengan semangat.
“Nah itu bagus itu . Ini yang harus dicontoh. Kalau kalian mau cita-citanya tergapai jangan malas!”
“Reko kamu tadi mau jadi apa?”
“Jadi Arsitek pak” Jawabku ragu-ragu.
“Hahaha..., ini... yang seperti ini yang aneh. Punya cita-cita tinggi tapi malas! Tidak disiplin begini mau jadi arsitek? Udah benar kamu jadi pawang gajah saja. Kerjamu kan bermain terus bersama gajah-gajah itu. Tidak perlu belajar”
Beberapa temanku ikut tertawa. Aku hanya menunduk. Diam. Memang apa salahku? . Sejak itu aku tidak menyukai pak guru matematika itu .
Sore harinya seperti perintah bapakku. aku mencari pakan gajah yaitu pelepah sawit yang ada di perkebunan milik pak Darul. Kebetulan di sana ada pak Darul yang sedang memanen kelapa sawit.
“Wah Dam. Mau ambil pelepah sawit kan? Itu ambil saja yang ada di tumpukan itu” ucap pak Darul sambil menunjuk setumpuk pelepah sawit.
“ Iya terima kasih ya, Pak”
“ Oh iya ko, bapakmu sudah tahu belum? Belakangan ini banyak orang yang memasang perangkap hewan di hutan. Beri tahu bapakmu untuk hati-hati”
“Pak Darul ke hutan , Pak” tanyaku spontan.
“ohh...iyaa...itu.. saya Cuma cari kayu-kayu bakar” jawab pak Darul gugup .
“Ohh begitu, baik Pak terima kasih informasi dan pelepahnya.nya. Sampai jumpa”
Aku meninggalkan pak Darul sambil bergumam. Wah orang kaya seperti dia masih perlu kayu bakar juga rupanya.
***
“ Nak sepulang sekolah bantu amak yo, bersihkan penginapan mau ada tamu jauh “
“Tapi Amak , Reko mau lihat Joko latihan jaranan di tempat Pak Darul”
“ Nanti amak kasi upah”
“wah benar ya, Amak. Terima kasih, Amak”
Sepulang sekolah. Sesuai dengan perintah amak, aku membereskan rumah inap lalu bersiap untuk memberi makan gajah-gajah.
Pohon besar di pinggir sungai menjadi tempat ternyaman bagiku. Aku mengambil beberapa lembar kertas kosong dan pensil sambil menunggu Bona selesai makan. Aku memiliki tugas khusus yaitu bermain dan memberi makan si belalai manis itu. Menggambar pemandangan di sekitar sungai Gajak sembari ditemani gemerciknya air sungai dan diwarnai langit jingga adalah kesukaanku.
***
“Selamat malam, Pak”
“ Malam, Buk.Terima kasih sudah menyediakan tempat buat saya sekeluarga. Perkenalkan saya Irwan”
Seorang berpenampilan rapi mengunjungi rumah kami beserta istri dan anak perempuannya. Sepertinya seumur denganku. Itu adalah wisatawan yang dimaksud ibu kemarin.
“Mari semuanya saya antar ke penginapan” ucap ku sambil membantu membawakan barang mereka. Aku menunjuk ruangan-ruangan dan beberapa area yang boleh di kunjungi.
***
“ Permisi, Kak , toko kelontong di mana ya? Oh iya perkenalkan saya Bela”
Suara itu menggugahku yang sedang berbaring di tepi sungai .
“ Agak jauh, mau saya antar?”
“Wah, terima kasih banyak, Kak.., maaf namanya siapa ya?”
“Panggil saja Reko”
Aku menyiapkan sampan untuk menyebrangi sungai. Ku kira gadis ini bertingkah lebay atau ketakutan ternyata ekspresinya biasa saja . Menggunakan sepeda milik bapak aku pergi ke toko kelontong yang ku tempuh selama 12 menit. Di jalan dia banyak bicara. Dia bercerita bahwa dia bosan dikota dengan gempulan asap di mana-mana. Aku menjawab dengan santai. Kuceritakan tentang desa dan para gajah.
“Kak Ko, kandang gajahnya di mana?”
“ Gajah disini gajah liar. Jadi tinggal di hutan “
“Ohh begitu, untuk melihatnya gimana dong?”
“Biasanya ayah saya tahu lokasi-lokasi khusus mereka”
Kami sampai di toko kelontong dan aku menunggu ia berbelanja. Di saat menunggu aku melihat Joko yang berlari-lari .
“Woii Jok , ngapo?”
Dia menghampiriku sambil tergopoh-gopoh.
“Pak Darul di datangi polisi”
“ Weh benar aja kamu, kenapa?”
“ Benar Ko, dia ketahuan geser patok. Pantaslah kebunnya luas kali”
“ Ya udahlah , aku penasaran mau lihat “
Tak habis pikir selama ini pak Darul geser patok, pantaslah dia tahu tempat – tempat jebakan yang dipasang pemburu liar .
“Sudah, Kak ayo balik” ucap Bela.
Aku mengayuh sepedaku ke arah pulang. Aku menjadi akrab dengan Bela. Seperti yang kuduga Joko jadi sering datang kerumahku. Bela sering membantuku menyiapkan pakan gajah. Kami pergi memancing ikan. Mencari keong di sawah. Dan melihat Joko menari jaranan di acara – acara syukuran .
***
“Kita harus pulang segera, Pa!, Kondisi Bela memburuk”
“Tunggu beberapa hari lagi, Ma. Papa menemukan harta Karun tersembunyi di sini”
“maksud papa apa?”
“Begini Ma, setelah Papa telusuri dengan cermat daerah sekitar sungai Gajak ini dapat dijadikan tambang batubara”
“Itu urusan Papa. Yang penting sekarang itu Bela”
“Ya sudah besok kita pulang”
Saat sedang mengantarkan sarapan pagi tidak sengaja aku mendengar percakapan itu. Aku sedikit gelisah, kesal, dan bertanya-tanya. Gelisah tentang tambang dan apa sebenarnya yang terjadi dengan Bela . Namun aku tidak terlalu berpikir panjang.
“ Kak Ko saya besok sudah pulang. Hari ini kita jalan-jalan yuk”
Bela menghampiriku dengan menggunakan sweater dan syal. Walaupun menurutku di sini tidak sedingin itu.
“ Gimana kalau kita lihat bunga Raflesia di hutan”
“Bunga Raflesia yang di bilang bunga bangkai itu?”
“Iya, Bapak kemarin meihat bunga itu. Gak terlalu di dalam hutan kok”
“Ya sudah. Kakak jemput kak Joko saja dulu . Aku tunggu di rumah”
Aku mengayuh sepeda bapak sampai kerumah Joko. Ku ajak Joko untuk pergi bersamaku. Ia membawa senapan. Katanya siapa tahu ada hewan buas.Di dalam hutan kami tidak sengaja menyentuh salah satu perangkap yang di pasang pemburu. Padahal hutan ini di larang menebang ataupun berburu. Aku menyingkirkan perangkap itu.
“Wah ini lho ko bunganya “teriak Joko histeris.
“Woowww besar juga ya. Aku mau swafoto “ ucap Bela.
“Bau juga yaa, humphhh”
“Yaelah Jok, kalau mau wangi bunga kuburan sana”
Setelah beberapa menit berkeliling kami kembali pulang. Karena Bela juga akan bersiap siap untuk kegiatan besok.
“ Bel kapan-kapan main lagi kesini ya” ucap Joko penuh harap .
Bela menganggukkan kepala sambil tersenyum.
***
2 Tahun kemudian....
Aku kuliah jurusan arsitektur di Jogja . Aku jarang pulang karena masalah biaya. Aku melihat berita tentang sungai Gajak. Menurut info, kawasan sungai Gajak akan dijadikan tambang oleh PT. Cipta Surya. Aku terkejut mendengar berita itu dan langsung menghubungi bapak. Bapak berkata bahwa itu benar. Lalu bagaimana dengan gajah-gajah?. Katanya gajah-gajah akan dipindahkan di suaka margasatwa yang ada di kabupaten.
Rasa penasaranku tak terbendung. Aku mencari tau tentang PT. Cipta Surya. Ternyata PT itu dipimpin oleh Pak Irwan. Ayah Bela. Ternyata rencananya 2 tahun lalu benar-benar berjalan. Kesedihanku mulai merayap cepat, menusuk sukma. Aku mencoba menghubungi Joko .
“Kami belum bertemu pak Kades karena ia sedang di luar kota”
“Kita harus hentikan tambang ini, Jok. Bagaimana nasib para gajah? Anak cucu nanti tidak bisa lihat gajah lagi. Masa bisa lihat gajah cuma lihat di HP aja. Nggak seru. Air di sekitar juga bisa tercemar”
“Kita bisa opo? Kita hanya orang kecil”
“kamu tahu nggak. bahwa yang punya ide tambang itu siapa? Ayah Bela, Jok”
“Hah. Buset. Bela yang pernah ke sini itu kan?”
“Iya, kamu ada nomornya ?”
“Ok, nanti aku kirim”
Aku mencoba menghubungi Bela namun teleponku tidak diangkat. Hingga pada panggilan ketiga terdengar suara wanita tua dari handphoneku. Itu adalah ibu Bela. Kuperkenalkan diriku bahwa aku teman anaknya.
“Bela sedang tidak bisa diganggu, Nak. nanti saja ya.”
Komunikasi kami terputus. Aku memaklumi mungkin Bela benar-benar dalam kondisi yang tidak bisa diganggu.
Ketika malam menyapa, ponselku berdering kencang. Sengaja kuaktifkan demi Bela.
“Halo…benarkah ini dengan Bela?”
“ Iya ini siapa ya?” suaranya terdengar sangat lemah.
“ini Reko yang dulu di sungai Gajak”
“ Oo kak Ko, ada apa, Kak?”
Aku menceritakan semuanya kepada Bela. Dia cukup terkejut mendengar hal itu sebab ia tidak tau apa-apa. Ia berkata bahwa akan membicarakan hal ini dengan ayahnya. Aku berterima kasih akan hal itu. Aku dan anak-anak muda di desaku bersama sama menolak akan adanya tambang ini. Berbagai cara dilakukan terutama di media sosial. Kami juga mendapat dukungan dari beberapa pihak. Kami memberi tahu tetua desa kami untuk mendatangi kepala desa. Puji Tuhan, kepala desa pun tidak menyetujui adanya tambang itu.
Beberapa hari kemudian aku membaca berita terkini tentang Gajak. Akhirnya di sekitar sungai Gajak tidak akan di jadikan tambang batubara . Mengetahui berita itu aku menghubungi Bela kembali. Namun nihil. Tak direspon.
***
“Rekoooo” Amak berlari dari ujung jembatan Gajak. Menumpahkan segala rindu selama ini.
“Amak kangen sekali, sama anak Amak” Seru amak sambil memberikan pelukan spesial. Pelukan penghangat terbaik.
“Amak biarkan dia pulang dulu pasti Reko capek” omel bapakku.
Ku ulurkan tangan pada bapak dan menariknya kedalam pelukan kami. Beberapa menit aku merasakan kehangatan yang tidak akan pernah ku dapat selain di sini.
***
Aku menjumpai Joko yang berperan sangat penting dalam pengelolaan wisata Gajak ini. Sekarang aku yang dipandunya untuk berkeliling. Melihat beberapa orang melalui jembatan yang aku desain sendiri. Jujur aku bangga. Penginapan yang dulu di tempati Bela sekarang juga sudah hampir seperti vila. Gajah-gajah juga mendapat pelatihan dari pihak profesional. Kulihat beberapa remaja bermain di pinggir sungai membuat ku terasa tersedot ke masa lalu.
Diam-diam aku kagum pada sahabatku, Joko. Dulu ia kesini karena mengikuti program transmigrasi dari Jawa. Namun semangatnya tentang taman wisata Gajak ini begitu berapi-api. Aku bisa membayangkan banyaknya tantangan yang dihadapinya.
“Reko itu tempat favoritmu kalau menggambar- kan?” Katanya sambil menunjuk sebuah pohon besar di dekat sungai. Untuk pohon itu, tidak ada yang berbeda dari yang dulu.
“Emang sengaja dijaga tetap gitu. Kurang baik apa coba aku?”
“Wah emang best friend terbaik”
Langkah demi langkah kami dengan ringan menyusuri setiap sudut tempat spesialku. Surga duniaku. Langkahku terhenti, saat netraku melihat banyak balok kayu kecil tipis yang di gantung menggunakan tali di atas cabang-cabang pohon itu. Saat kubaca itu berisi sebuah impian yang pernah kami tuliskan dulu.
“Ini ide Bella sebelum ia pergi selama-lamanya. Dia sering kesini dan mengajak orang-orang untuk menulis harapannya” terangku pada Joko. Tak terasa berintik air bening keluar dari sudut netraku. Aku dan Joko saling bersitatap. Kami tersenyum menyentuh sebuah balok bertuliskan “MARWAH BANGSA”. Kami berjanji dalam hati untuk setia menjaga negeri agar jejak tapak sejarah terus ada dan negeri kita berwarwah karena kita menjaga budayanya.
Bengkulu Utara, 7 Mei 2023
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Hari Pahlawan Nasional
???? 10 November 2025 — Hari Pahlawan Nasional Hari ini bukan sekadar tanggal merah atau upacara bendera. Hari ini adalah momen untuk merenung dan meneladani semangat para pahlawa
CINTA BERSEMBUNYI DISEBALIK TAKDIR Oleh : Agis Triana Sari Devi
King Attala Ahmad, seorang pemuda tampan yang sangat baik dan sholeh. Orang-orang disekelilingnya kerap memanggilnya Attala. Attala sangat mencint
RUMAH YANG TUMBUH BERSAMAKU (Untuk Bengkulu, di Ulang Tahun ke-57)
Bengkulu, Engkau adalah Rumahku. Bukan hanya tanah, tapi Ibu yang menyambutku. Aku datang di langkah kecil seorang bocah transmigran, Membawa sepotong rindu dari seberang. Kini
SURAT SANG GURU (Titi Karyati, S.Pd)
???? 10 November 2025 — Hari Pahlawan Nasional Hari ini bukan sekadar tanggal merah atau upacara bendera. Hari ini adalah momen untuk merenung dan meneladani semangat para pahlawa
Langkah Kecil Yang Berbuah Prestasi : Kisah Inspiratif Shilvia May Sandi
Shilvia May Sandi adalah siswi aktif yang saat ini duduk di kelas 11 SMA, tepatnya bersekolah di SMAN 7 BENGKULU UTARA. Ia dikenal sebagai salah satu siswa berprestasi di bidang
CERPEN "Dialog Hitam Putih" (RENNA PUTRI LESTARI)
Prolog : Aku tidak percaya yang namanya teman, sahabat, teman sejati , atau semacam itu lah, aku merasa Tuhan juga tidak sayang d
CERPEN : "Hadiah Paling Berharga" PART 1 (Winda Mardian Putri, 2024)
Sore itu, matahari tersorot jelas memberikan cahayanya. Ditambah lagi dengan angin-angin yang menyambut setiap desakan panas yang menyingsing, terlihat seorang gadis kecil yang tengah m
CERPEN "YANG TERLUPAKAN" (SUCI WULANDARI)
Menjalani sebuah kehidupan tak harus selalu sempurna memiliki sebuah kekurangan adalah hal yang biasa dan wajar seperti Sawala yang pandai dalam bahasa asing dan yang mana Sawala sangat
CERPEN "BAYANG-BAYANG DI ANTARA KITA (SUCI WULANDARI, XII IPA 3)"
Tema: Pencarian identitas Moralitas dan etika Kesehatan mental Senja terpancar dengan lembut di atas taman kota. Lili duduk sendiri di bangku kayu,
JURNALISTIK : "MENGENAL LEBIH DEKAT PLG SEBELAT" (HERVINA FLORENSIA SIREGAR)
Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orangdengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, ataumempelajari keun