• SMAN 7 BENGKULU UTARA

  • Jl Raya Desa Pasar Baru Kota Bani, Putri Hijau, Bengkulu Utara

Kain Spesial Nenek Oleh Ana Satri Dwi Pratiwi

 

          “ Ara...Ara..!!!”

Suara itu terdengar sangat membisingkan, bersamaan dengan suara ketukan pintu yang juga sangat keras. Suara itu dari nenek yang tengah membangunkan Ara. Hampir setiap pagi Ara kesiangan. Semenjak SMA, Ara tinggal di rumah nenek. Orang tua Ara ingin, agar Ara menemani nenek dan kakeknya yang hanya tinggal berdua di rumah itu. Pagi-pagi sekali, kakeknya Ara sudah berangkat ke kebun. Jadi, neneklah yang membangunkan Ara setiap paginya.

          “Ara masuk siang,nek !!!”

Jawab Ara tanpa bangun dari tempat tidurnya. Jangankan membuka pintu.  Ara malah mengambil bantal dan menutupi kupingnya. Selanjutnya omelan-omelan yang keluar dari mulut neneknya. Tidak didengarkannya lagi, hingga suara bising itupun hilang.

          “Huaaahhh....! Ara sangat lega, omelan nenek tak terdengar lagi. Nenek... Nenek, ga usah repot-repot bangunin Ara Kan Ara tau jadwal.” Dilirknya Arloji dimejanya, pukul 08:05 WIB.

 “Ih, baru jam 08:00 WIB juga, kan Ara masuk jam 10:00 WIB.”

          “Ara.... Nenek berangkat ke kebun, sarapan sudah Nenek siapkan, jangan lupa sarapan. Kain yang Ara bawa, juga sudah nenek siapkan.” Tanpa menunggu jawaban dari Ara. Nenekpun pergi ke kebun.

Astaga!!  Iya... Hari ini kan, disuruh membawa kain ke sekolah.” Seru Ara.

 “Iya nek, terima kasih.”  Teriak Ara yang masih tetap di tempat tidur.

 Ara kelabakan, ia baru ingat hari ini ada praktik sholat jenazah di sekolahnya. Untung nenek mengingatkan.                                                       

Ara tersenyum, lalu mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Setelah berpakaian, Ara menghampiri meja makan. Senyum Ara mengembang setelah dilihatnya telur dadar kesukaannya.

”Walaupun nenek cerewet dan suka ngomel, tapi neneklah yang paling baik.” Gumam Ara dalam hati. Arapun makan dengan lahapnya.

Nenek termasuk orang yang disiplin dan ketat. Dalam mendidik anak-anak dan cucu-cucunya. Sebenarnya, dahulu nenek ikut dalam pertempuran melawan penjajah. Makanya, nenek lumayan keras dalam mendidik.

Ara pernah ketahuan berbohong, saat pergi ke pasar malam. Tetapi Ara pamit mau pergi belajar di rumah teman. Ara juga pernah berbohong, minta uang untuk membayar buku. Padahal, Ara gunakan untuk membeli baju baru. Ara juga pernah saat pulang sekolah, langsung ke tempat karaokean, bersama teman-teman.  Padahal nenek masih memperhatikan kebutuhannya. Diusianya yang senja, beliau masih rajin pergi ke kebun. Padahal, orang tua Ara sudah tidak mengizinkan beliau ke kebun. Tetapi, nenek dan kakek Ara tidak betah kalau hanya berdiam diri di rumah.

          Ara melihat jam tangannya 09:00 WIB. Dia kaget, ternyata sudah hampir jam 10:00 WIB. Ara segera membersihkan tangan dan menggosok gigi. Karena terburu-buru, Ara jadi lupa membawa kainnya, padahal sudah disiapkan nenek di atas meja.

          Kain yang disiapkan itu, adalah kain terbaik yang dimiliki oleh nenek Ara. Kain itu berwarna biru dongker, dengan benang–benang emas dipinggirnya. Nenek mau bilang kalau kain itu untuk Ara saja, agar bisa digunakan untuk sholat, tetapi Ara tidak menemui nenek saat nenek membangunkannya. Hingga nenek berangkat ke kebun. Tetapi, nenek sempat menuliskan surat di atas kertas, dan meletakkannya di atas kain itu.

Pukul 14:00 WIB. Bel pulang pun berbunyi. Ara terlihat kusut, keluar kelas dan berjalan ke arah motornya. Karena lupa membawa kain, nilai praktiknya siang ini masih kosong. Ara melangkah gontai.

Tiba-tiba, Ara teringat kejadian tadi pagi. Coba saja, Ara bangun dan menemui nenek tadi pagi, pasti kain itu tidak akan tertinggal. Karena, nenek pasti sudah memasukkannya kedalam tas. Mungkin ini karma dari Allah, atas sifat Ara tadi pagi ke nenek. Pikir Ara dalam hati, ya sudah deh besok-besok Ara mau jadi anak yang baik.

Biar kejadian hari ini gak terulang lagi. Maklum saja, karena Ara terkenal sebagai anak yang pintar di sekolah. Dan selalu menyelesaikan tugas atau praktik dari guru. Walaupun dirumah, dia sedikit terlihat bandel dan manja.

          “Ra, kita ke karaokean yok!” Ajak Ana.

          “Ara mau langsung pulang aja Na. Lagi kurang mood nih.”  Jawab Ara singkat sembari berlalu meninggalkan Ana.

          “Lah, Aranya mana Na?” Tanya jessy yang tiba-tiba sudah di dekat Ana.

”tuuhh...”  Ana menunjuk punggung motor Ara dengan ujung bibirnya.

 “kok dia pulang sih ?”  tanya jessy lagi.

”katanya lagi ga mood,udah ah kita pulang aja.” Kata Ana kepada jessy sambil berlalu pergi.

Diperjalanan, Ara terlihat bengong, ntah kenapa perasaannya sungguh tidak enak. Rasanya ia ingin segera tiba dirumah. Jarak rumah dan sekolah Ara cukup jauh. Ara sempat teringat lagi kejadian tadi pagi. Ara menarik napas panjang.  

Tiba tiba seekor kucing lewat di depan motor Ara. Ara menarik rem mendadak.

”huuhhh... hampir saja”

 Ara kembali menarik napas panjang. Kucing itu ampir saja membuat Ara kehilangan keseimbangan. Ara kembali melajukan motor kesayangannya.

’’ Andai saja ada pintu Kemana sajanya doraemon. Ara pasti sudah sampai dirumah. Atau ada song jong ki oppa, Ara pasti sudah dijemput dengan hellicopter pribadinya, seperti di drama korea descendants of the sun gitu.” Ara tersenyum-senyum sendiri memikirkan khayalan anehnya itu.

 “udah ah, haha kok malah nyasar ke korea ya ?” Gumam Ara dalam hati.

 “Lho,kenapa motorku rasanya aneh ya ?” Tanya Ara dalam hatinya.

 “tuh kan oleng.”  Ucap Ara lagi. Arapun berhenti dan melihat Ban motornya.

”yaahhh kempes.” Gerutu Ara dalam hati. Syukurlah ada tempat tambal ban yang berada tidak jauh dari tempat Ara saat ini.

          20 menit berlalu, akhirnya ban motor Ara selesai ditambal.

“Yeaayy..akhirnya Ara bisa pulang juga.” ucap Ara.

Tanpa berfikir panjang Ara segera Melaju kencang dengan Honda kesayangannya.

          Dari kejauhan, Ara melihat ada kijang milik papanya stand by di halaman rumah nenek.

”kok ada mobil papa? Kok papa datang tiba-tiba? Lho kok rame ya di rumah??”  Berjuta pertanyaan muncul di benak Ara.

”Ada apa?? Kenapa?” Ara segera memarkirkan motornya dan berlari ke rumah.

”mamaa!!!” Teriak Ara sambil memeluk mamanya.

”Apa yang terjadi ma!, Apa?”

Semakin cemas Ara menanyakan hal itu, karena melihat mamanya menangis. Tapi dia tidak mendapatkan jawaban dari mamanya. Saat dia melihat kedalam rumah, ada sesuatu yang tertutup kain di tengah ruang tamu. Ara juga melihat papanya yang menangis memegang buku kecil. Dan Ara juga melihat kakeknya yang menangis dan duduk di samping benda yang tertutup kain itu.

          “nenek ra, Nenek udah pulang.”  Jawab mama dengan pelan.

 “haa? Pulang, maksudnya? Nenek emang tadi pagi ke kebun, ma tapi dia belum pulang.”

“bukan sayang, Nenek udah pulang ke alamnya, Nenek udah ga ada lagi ra.” jawab mama dengan sangat pelan.

 “apa!!!!” Jawab Ara kaget. Jawaban Mama yang pelan, begitu terdengar nyaring di telinga Ara. Tanpa berkata apa –apa lagi . Ara langsung mendekati neneknya yang talah tertutup kain dan duduk disampingnya.

“nenek,,,,, benarkah ini nenek??? Nenek sedang bohong kan, bangun nek, nenek sedang akting kan? Jangan membuat  Ara kuatir seperti ini, nenek beneran pergi? Kenapa secepat ini nek? kenapa tidak menunggu Ara pulang??”

suara itu terdengar terbata-bata. Air mata Ara memenuhi pipinya.

”nenek Ara meninggal,karena tiba-tiba saat di kebun tadi dia sesak napas,  belum sempat dibawa kerumah sakit, nenek sudah tidak tertolong lagi.” Terang mama dengan terisak pada Ara.

“Maafin Ara nek, tadi pagi Ara tidak menemui nenek, saat nenek membangunkan Ara. Tapi Ara sudah berjanji , untuk berubah menjadi lebih baik, dan tidak akan mengulangi kejadian seperti tadi pagi, dan tidak membuat nenek kesal lagi. Tapi sekarang kenapa nenek tinggalin Ara? kenapa nenek pergi?? maafin Ara nek!”

Suara penyesalan itu kembali mengalir di bibir Ara. Papa langsung duduk didekat Ara, dan merangkul Ara kedalam pelukannya.

”Ara yang sabar ya sayang, Ara yang ikhlas.”  Suara papa coba menenangkan Ara.

“Ara pernah berbohong kepada nenek pa.”

 “sudah sayang, yang sabar, kita masih bisa mengirimkan doa ke Nenek. Nenek pasti sangat senang, kalau dapat doa dari Ara.”

Walau sangat sedih, kalimat papa mampu menguatkan Ara.

”DOA ? Ya, Ara harus mengrimkan Nenek doa, semoga Nenek tenang di sana, dan di tempatkan di tempat terindah yang Allah punya, dilapangkan kuburnya dan dijauhkan dari siksa api neraka.”

 
   

 

 

 

         

 

Kembali Ara menangis, membaca surat kecil yang ditemukan di atas kain  yang disiapkan nenek . Untuk praktiknya tadi pagi.

”Ara sayang nenek, Ara janji akan menjadi anak yang baik nek !”  Janji Ara dalam hati, sambil memeluk kain spesial dari nenek.

Komentar

Gimana

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
HIJRAH (Oleh : Nindya Aryani)

    Aku menatap ke arah jalan yang ramai dari tempat dudukku. Terlihat kendaraan berlalu lalang di jalan itu. Hari ini SMA libur, jadi aku bisa sejenak merefresh otakku dari

24/03/2021 06:57 - Oleh Administrator - Dilihat 289 kali
Sample Post 3

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco l

24/03/2021 06:57 - Oleh Administrator - Dilihat 212 kali
Sample Post 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco l

24/03/2021 06:57 - Oleh Administrator - Dilihat 219 kali
Sample Post 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco l

24/03/2021 06:57 - Oleh Administrator - Dilihat 202 kali